A. Kepemimpinan Rasulullah Saw di Mekah dan Medinah Serta Kebijakan Militer Menghadapi Bizantium
1. Kepemimpinan Rasulullah Saw di Mekah
Teori tentang Muhammad saw jumlahnya sebanyak jumlah penulis riwayat hidup beliau. Misalnya, ada yang menggambarkan beliau sebagai orang yang sakit sawan, ada sebagai seorang penghasut sosialis. Pandangan yang demikian subyektif, umumnya ditolak oleh sebagian besar para sarjana, walaupun hampir tidak mungkin menghindarkan unsur subyektif dalam memberikan gambaran tentang riwayat hidup dan karya beliau. Tetapi kalau merujuk kepada wahyu Allah maka dalam diri Nabi Muhammad saw terdapat pelajaran dan teladan yang baik.” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”(QS. Al-Ahzab:21). Dari ayat tersebut tergambar jelas bahwa dalam diri Muhammad saw ada teladan yang baik.
Dengan demikian, kalau ada ahli sejarah menyatakan bahwa Muhammad saw penghasut dan mempunyai akhlak buruk adalah bertentangan dengan ayat tersebut , Muhammad saw menderita, tertindas,terancam, tetapi pada sisi lain, beliau telah mendobrak jalan baru dalam cita-cita, kebiasaan zaman, dan tempat kediaman beliau. Fakta satu-satunya yang pasti bahwa ilham beliau adalah keagamaan. Sejak beliau bekerja sebagai penyebar agama, pandangan dan pertimbangannya mengenai orang, peristiwa dan pemerintah berdasarkan wahyu Allah. Muhammad saw adalah Nabi revolusioner yang menerima wahyu dari Allah, wahyu tersebut sebagai landasan inspirasi perjuangan untuk melawan ordo ketimpangan, penindasan yang dibangun masyarakat Arab pada waktu itu. Sebagai Nabi revolusioner, Muhammad saw berjuang di atas kebenaran, kebesaran jiwa demi egalitas sosial. Dengan Muhammad saw di utus untuk membebaskan manusia dari berbagai penindasan, intimidasi, pelecehan kemanusiaan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh para penindas. Muhammad saw menjadi pemimpin manusia yang bertujuan membangun masyarakat yang didasarkan pada nilai- nilai keimanan, egalitas sosial, persaudaraan. Muhammad saw diutus untuk membebaskan para budak, anak yatim, perempuan, kaum miskin dan lemah.
Dari kutipan tersebut dapat dipahami bahwa Muhammad saw diutus untuk memberi kabar gembira, dengan membebaskan para budak, anak yatim dan kaum lemah. Perjuangan Muhammad saw dilandaskan pada wahyu Allah. Muhammad saw juga menjadi Nabi Modern yang merasakan pertentangan berkepanjangan antara kebajikan dan kebatilan yang ada dalam formasi sosial ekonomi, perjuangan kelas, perlawanan antara kaum tertindas dan penindas, tertekan dan penekan, budak dan majikan, pekerja tanah dan tuan tanah, antara yang kuat dan yang lemah.
Muhammad saw dilahirkan (tahun 570 M. menurut ahli sunah). Para ahli sejarah yang lain menyatakan bahwa Rasulullah saw lahir pada tanggal 9 Rabiul Awwal, permulaan tahun Gajah, atau bertepatan dengan tanggal 20 atau22 April tahun 571 M. dalam suatu cabang muda dari salah satu keluarga terkemuka di Mekkah, menjadi anak piatu waktu masih muda, kemudian diasuh oleh seorang paman beliau yang melakukan perdagangan dengan kafilah. Kemudian menjadi wakil niaga seorang janda bernama Chadijah ra. yang kemudian diperistrikan, dan menghasilkan putra putri (di antaranya empat putri masih hidup waktu beliau wafat). Fakta-fakta tersebut biasa dan tidak menunjukkan kebesaran beliau di kemudian hari. Tetapi yang membuat nama beliau dikenang dan dikenal adalah karena akhlaknya yang baik dalam memimpin, baik sebagai Nabi maupun sebagai pemimpin negara. Tetapai karena Muhammad saw membawa ajaran yang bertentanagn dengan keyakinan masyarakat pada waktu itu maka Muhammad saw mendapatkan perlawanan dari pemuka masyarakat Mekah yang tidak setuju dan tidak suka terhadap ajaran yang dibawa Muhammad saw.
Bentrokan antara keyakinan tadi dan ketidakpercayaan serta perlawanan dari kelompok-kelompok terus berlangsung. Hal itu dirasakan oleh Nabi saw dan para pengikutnya. Muhammad saw menyadari kedudukannya sebagai seorang utusan Allah. Perlawanan dan pertengkaran dengan penduduk Mekkah itulah yang memaksakan beliau maju dari masa ke masa, sebagaimana sesudahnya adalah perlawanan di Madinah yang menyebabkan Islam muncul sebagai suatu umat agama baru dengan iman, dan lembaga-lembaga yang tegas dan nyata. Keteguhan dalam menghadapi berbagai rintangan dan tantangan menjadikan Muhammad saw menjadi pribadi yang kuat dan tangguh serta konsisten dalam dakwahnya. Meskipun masyarakat Mekah mengadakan perlawanan, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan Muhammad saw untuk terus berjuang menegakkan Islam.
Sementara perlawanan penduduk Mekkah bukannya semata-mata karena mereka berpegang teguh pada adat-istiadatnya ataupun ketidakpercayaan agama (meskipun mereka mencemoohkan ajaran Muhammad saw. tentang kebangkitan), akan tetapi karena alasan politik dan perekonomian. Mereka takut akibat ajaran beliau atas kemakmuran mereka. Merekat takut kepercayaan murni terhadap Allah yang tunggal akan merugikan penghasilan yang mereka peroleh dari sanggar pemujaan mereka. Ditambah pula, mereka menginsafi secara cepat dari Muhammad saw. sendiri, bahwa penerimaan ajaran beliau akan mendatangkan suatu kekuasaan politik yang baru dan kuat dalam masyarakat mereka, yang merupakan kelompok seketurunan (oligarki). Mereka adalah para pedagang yang kaya,penguasa budak, tuan tanah yang angkuh dan sombong atas kekayaan mereka miliki, mereka menganggap bahwa wahyu itu seperti kekuatan ekonomi dan politik yang hanay dimiliki oleh orang yang kaya, pemuka agama dan tuan tanah, buklan mi;lik orang miskin, budak, anak yatim. Sehingga ketika ada orang msikin yang memberi semacam pencerahan dianggap tidak penting dan tidak perlu didengarkan, dan dianggap sebagai orang gila.
Bahkan, kaum bangsawan penindas merasa heran melihat seorang lemah dan miskin, seperti anak yatim, budak, pekerja kasar rendahan, tampil menjadi seorang Nabi revolusioner. Mereka mengharapkan pemimpin revolusioner itu datang dari kalangan mereka sendiri yang dapat berbuat sesuatu yang indah dan mewah. Mereka menolak dan menganggap apa yang disampaikan Muhammad saw adalah bohong. Bahkan Muhammad saw dianggap tidak waras, tukang sihir, tukang syair, bahkan Muhammad saw dianggap sebagai perusuh, karena mengarahkan kaum budak, tertindas, kamu msikin dan anak yatim untuk melawan kepada kaum bangsawan Mekah.” Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenun dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang penyair yang Kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya”.(QS. At-Thur:29-30).
Meskipun demikian Muhammad saw tidak putus asa dan terus berjuang bersama para tertindas, orang misikin adan anak yatim. Dari realitas tersebut tergambar bahwa nabi Muhammad saw berjuang bukan untuk mendapatkan kesenangan, tetapi untuk membebaskan manusia dari belenggu ketamakan dunia, kejahatan, penindasan, dan kesewenang-wenangan kaum bangsawan Mekah. Dari penjelasan tersebut dapat dicermati bahwa sebagai pemimpin Muhammad saw tidak membela kepentingan berdasarkan kemampuan ekonomi, tetapi untuk semua manusia yang tertindas, terintimidasi dan untuk orang miskin.
Muhammad muda lahir dari keluarga yang baik-baik dan terhormat di kalangan bangsawan Mekah pada waktu itu. Tetapi nasib membawa beliau harus hidup menderita karena di tinggal oleh ayah dan ibunya. Keadaan memaksa Muhammad Muda harus hidup bersama pamanya. Tetapi berbagai pengalaman pahit tidak membuat Muhammad menjadi manusia lemah sikap dan kepribadiannya. Penderitaan yang dialami Muhammad menjadi penempa diri dan pengalaman penting dalam sejarah kehidupannya. Di antara pengaruh yang ditimbulkan dari pengalaman masa lalunya adalah sikap tanggung jawab, jujur, adil dan bijaksana, teguh pendirian dan tidak mudah terpengaruh oleh perbuatan masyarakat di sekitarnya pada waktu itu.
Kepercayaan, masyarakat Mekah kepada Muhammad saw dapat dicermati dari kesepakatan para pemuka Qurais untuk menunjuk Muhammad saw sebagai penengah pertikaian antara mereka. Pertikaian tersebut dipicu oleh ketidaksepakatan mereka terhadap siapa yang paling berhak untuk meletakkan hajar aswad. “ maka Rasululah pun mengembangkan kain sorbannya dan meletakkan hajar aswad di atasnya serta bersabda:”Hendaklah tip-tiap kabilah memegang ujungnya lalu mengangkat Hajar Aswad bersama-sama samapi sejajar dengan tempatnya semula. Kemudian Muhammad saw mengambil serta meletakkan Hajar Aswad tersebut pada tempatnya semula. Dari peristiwa tersebut dapat dipahami bahwa Muhammad mempunyai kecerdasana untuk memecahkan permasalahan yang sulit.
Sebagai pemimpin Rasululah mempunyai akhlak yang mulia, sehingga dengan akhlak mulai tersebut Muhammad saw dijuluki al Amin. Bahkan Muhammad saw terkenal sebagai kesatria yang teguh memegang janji, santun, baik kepada tentangga serta menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak baik, rendah hati, dermawan, pemberani. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa Muhammad saw mempunyai kepribadian yang mampu mendukung perannya sebagai seorang pemimpin.
Sebelum diangkat menjadi rasul Allah Muhammad mempunyai keteguhan, keteguhan yang tidak di miliki oleh pemuda sebayanya. Keteguhan tersebut dapat dicermati dari sejarah kehidupannya yang enggan bahkan tidak terpengaruh oleh kebiasaan dan keyakinan bangsa Arab waktu itu. “para sejarawan sepakat telah sepakat bahwa Rasulullah saw tidak tertarik dengan agama mana pun yang dianut oleh masyarakat Arab. Beliau selalu menyepi seorang diri dan memikirkan hal itu, sehingga beliau menempuh dan bersikap hanafiah, yakni memeluk agama yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim sebagai agama yang dianut oleh sebahagian masyarakat.
Keteguhan dalam prinsip dalam diri Muhammad sebelum menjadi Rasul Allah merupakan modal awal sebagai seorang calon pemimpin besar. Pemimpin besar adalah pemimpin yang mampu berfikir sebelum berbuat dan banyak merenungi berbagai fenomena yang terjadi dan dialaminya. Pemimpin yang selalu teguh memegang prinsiap tidak akan diombang-ambing oleh berbaghai macam pengaruh dan isu yang akan menyesatkan dan menghancurkan diri dan yang dipimpinnya.
Muhammad saw dalam dakwahnya mengedepankan pendekatan yang efektif, menggunakan argumentasi, akal sehat, tanpa ada unsur paksaan, tetapi lebih mengedepankan unsur kasih saying dan penuh cinta. Sebagaimana yang ditulis oleh Afzalur Rahman dalam bukunya, “Nabi Muhammad Sebagai Pemimpin Militer, Nabi Muhammad saw mengajak orang dengan cara yang sangat memikat dan efektif, dengan menggunakan argumen dan akal sehat untuk mengikuti perkataan Allah. Dia juga menjelaskan pada mereka kebenaran sebenarnya tentang manusia, alam semesta, dan Allah, ajakannya memikat, penuh kasih sayang, bijak dan dengan cara yang baik. Ajakan Muhammad saw yang baik dan memikat akhirnya mendapat simpati, memkat hati masyarakat hati masyarakat Arab, meskipun tidak semua masyarakat Arab yang memeluk Islam pada waktu itu.
Begitu juga dalam menyebarkan dakwah Islam Muhammad saw tidak pernah memaksa masyarakat Mekah untuk memeluk Islam, tidak ada dalam catatan sejarah Muhammad saw memaksa masyarakat Mekah untuk masuk Islam, karena dalam ajaran Islam tidak mengajarkan pemaksaan dalam beragama. Muhammad mengajarkan agama berdasarkan wahyu dari Allah, dan wahyu tersebut menjadi landasan dalam menyebarkan dakwah Islam kepada masyarakat Mekah. Karena wahyu Allah hanya menyuruh Muhammad untuk menyampaikan bukan untuk memaksa mereka untuk patuh dan mengikuti ajaran Islam.” Jika mereka berpaling Maka Kami tidak mengutus kamu sebagai Pengawas bagi mereka. kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami Dia bergembira ria karena rahmat itu. dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena Sesungguhnya manusia itu Amat ingkar (kepada nikmat).”(QS. Asy-Syuara:48). Darai ayat tersebut jelas menyatakan bahwa Muhammad saw hanya disuruh untuk menyampaikan tanapa ada unsur perintah untuk memaksa masyarakat Mekah.
Dari sudut pandang manajemen kepemimpinan pemaksaan terhadap bawahan hanya akan membuka peluang permusuhan. Al-Quran menjelaskan bahwa tugas seorang Nabi akan berakhir ketika wahyu telah disampaikan. Kemudian kesemuanya diserahkan kepada masyarakat atau umat untuk menerima atau menolaknya. Hal ini juga dikemukakan oleh Afzalur Rahman bahwa tugas Nabi akan berakhir ketiak firman Allah telah disampaikan kepada umat.
Muhammad saw bertindak sesuai dengan petunjuk dan prinsip wahyu Allah, dakwah islam yang dilakukan di Mekah adalah atas petunjuk Allah. Dengan demikian tidak celah untuk keluar dari prinsip-prinsip Al-Quran . Sehingga dakwah Muhammad saw diterima dengan baik, tanpa paksaan dan merasa terpaksa. Bahkan dalam dakwahnya Allah memberi peringatan kepada Muhammad saw untuk ikhlas karena Allah, dan bukan untuk mendapatkan balas dunia.” Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah”.(QS. Al-Mudatsir:1-7).
Dalam awal startegi dakwahnya ,Muhammad saw mendakwahi orang-orang yang ada di sekitarnya, seperti sitrinya, Khadijah, anak pamannya Ali bin Abi Thalib, dan orang-orang terdekatnya, kemudian dilanjutkan kepada masyarakat secara luas terutama kepada para pemimpin dan pemuka masyarakat Mekah Qurais. Seperti Abu Bakar ash Shidiq, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abu Waqqas, Abdurrahman bin Auf dan Thalhah bin Ubaidillah.
Langkah dakwah yang dilakukan Muhammad saw memberi kesan kehebatan dalam strategi seorang pemimpin, kehebatan tersebut dapat dicermatai dari cara dakwah Muhammad saw yang tepat. Ketepatan tersebut dapat dipahami dengan memilih pemuka masyarakat Qurais terlebih dahulu dalam menyebarkan islam, dengan harapan kalau para pemuka tersebut memeluk Islam ada kemungkinan para pengikutnya akan mengikuti pemimpinnya. Karena pada dasarnya masyarakat Arab pada waktu itu sangat fanatic terhadap pemimpinnya, dana budaya seperti ini dibaca dan digunakan Muhammad saw untuk mendakwahkan Islam kepada para pemimpinnya. Srategi tersebut menuai hasil dengan masuknya para pemuka Qurais ke dalam Islam.
Tidak itu saja, setelah dakwah secara sembunyi sembunyi, Muhammad saw membuat semacam tempat/ markas untuk mengatur strategi dakwah dan pendidikan para pengikutnya. Markas tersebut berpusat di rumah tokoh masyarakat Qurais yaitu Al-Arqam bin Abu Al-Arqam, dari markas inilah dakwah secara sembunyi-sembunyi dikendalikan, di markas ini para penganut Islam didik dan didoktrin oleh Nabi saw agar menjadi pemeluk dan pengikut yang kuat, teguh pendirian, taat kepada pemimpin dan Allah.
Setelah mempunyai pengikut tentu perlu tempat untuk pertemuan, pengkaderan dan musyawarah untuk mengatur strategi dakwah dan perjuangan menegakkan agama Islam. Hal inilah yang telah dipikirkan oleh Muhammad saw, sehingga dengan keputusan tersebut mempunyai implikasi yang baik terhadap perjuangan Muhammad saw di Mekah. Rumah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam menjadi basis perjuangan Muhammad saw.
Di sisi lain, di kalangan kaum Qurais yang anti terhadap dakwah Muhammad saw mulai mengambil sikap konfrontasi, sikap tersebut makin jelas dengan perbuatan mereka yang menyiksa siap saja yang masuk Islam, tidak itu saja mereka kaum Qurais juga mencaci maki kaum muslim yang sedang salat. Dalam keadaan seperti ini Muhammad saw mengambil kebijakan dengan menyuruh dan menginstruksikan kaum muslim untuk menyembunyikan keislamannya, baik perkataan maupun perbuatan. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury dalam bukunya Sirah Nabawiyah,”langkah bijaksana yang diambil Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam dalam mengahdapi berbagai tekanan itu, beliau melarang orang-orang Muslim menampakkan ke –Islamannya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Beliau tidak menemui mereka kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi.” Kebijakan yang diambil oleh Muhammad saw merupakan sebuah strategi untuk menghadapi orang kafir Qurais. Hal ini dilakukan agar umat Islam terhiondar dari kekejaman mereka.
Dengan adanya taktik tersebut maka umat Islam yang masih sedikit mampu bertahan dan terhindar dari tekanan, intimidasi dan penyiksaan yang dilakukakan oleh orang-oranag kafir Qurais. Kemudian timbul pertanyaan kenapa umat Islam pada waktu itu harus sembunyi-sembunyi bukankah dengan secara terang-terangan akan lebih baik, karena kalau pun mereka meninggal, meninggal secara sahid? Mungkin dalam satu sisi ada benarnya kalau secara terang-terangan ada kemungkinan orang-orang kafir akan menyerang dan akhirnya terjadi perkelahian secara fisik, kalau hal ini terjadi maka ada kemungkinan kaum muslim meninggal, dan kalau meninggal karena membela agama Allah adalah mati syahid.
Tetapi setelah Allah memrintahkan untuk dakwah secara langsung dan terang-terang Rasulullah bangkit dan berdakwah secara langsung didepan umum.” Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu),”(QS.Al-Hijr:94-95).dalam ayat tersebut Allah menyuruh Muhammad saw untuk dakwah secara terang-terangan kepada kaunya.
Artinya adalah resiko yang dihadapi akan lebih besar. Meski demikian Muhammad saw dan pengikutnya dilindungi oleh Allah, atau semacam jaminan keamanan dalam operasi dakwahnya secara terang-terangan. Kalau dakwah sebelumnya bersifat gerilya, dari rumah ke rumah, maka sekarang medan dakwahnya adalah di lapangan terbuka, dakwah terbuka mengandung tantangan yang lebih besar dari pada dakwah secara gerilya sembunyi-sembunyi. Dengan dakwah secara terbuka, maka banyak strategi yang perlu disiapkan untuk melaksanakan hal tesebut. Strategi pertama dilakukan Muhammad saw adalah menyeru kepada kerabat dekatnya yaitu Bani Hasyim dan Bani Al Muthalib bin Abdi Manaf. Kemunginan dengan menyeru kerabat dekat akan lebih mudah, sekaligus menjadi semacam benteng pertahanan yang membelanya ketika mendapat tantangan dari kabilah lain. Tetapi Muhammad saw tidak putus asa dan menghentikan dakwahnya meskipun ditentang dan di hadang. Berbagai rintangan dakwah dilakukanleh orang-orang Qurais, diantara rintangan tersebut adalah, dengan ejekan, penghinaan, olok-olok, penertawaan, dan Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.”(QS. Al-Qalam:51). Mnejelek-jelekkan ajaran beliau, membangkitkan keragu-raguan, menyebarkan anggapan-anggapan yang menyangsikan ajaran-ajaran Muhammad saw, melawan Al-Quran dengandongeng orang-orang dahulu dan menyibukkan manusia dengan dongeng-dongeng itu, menyodorkan beberapa bentuk penawaran, penawaran tersebut adalah usaha untuk mempertemukan Islam dan Jahiliyah di tengah jalan, Orang musyrik meninggalkan sebagaian ajaran mereka dan demikian juga Muhammad saw. Berbagai rintangan tersebut tidak menyurutkan Muhammad saw untuk meneruskan perjuangan dakwahnya. Sebagai seorang pemimpin Muhammad saw menyikapi keadaan tersebut dengan tenang dan penuh kewaspadaan tanpa terpropokasi oleh manuver yang dilakukan oleh-orang-orang musrik Mekah.
Tantangan dan ancaman terus dilancarkan oleh orang musyrik Mekah gangguan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Mekah ditujukan kepada muslim yang masih lemah, dengan harapan mereka akan terganggu dan tertekan jiwanya dan akhirnya kembali ke dalam agama mereka(Jahliyah). Berbagai penyikasaan dan penindasan, intimidasi dilakukan oleh orang musyrik Mekah. Dengan perlakuan seperti itu kaum muslim terjepit dan merasa tidak aman kalau terus tinggal di Mekah. Dalam keadaan genting seperti ini, Muhammad saw mendapat wahyudari Allah untuk segera eksodus dari kota mekah.” . Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”(QS.10). Ayat tersebut dapat dipahami bahwa selain berisi tentang perintah betakwa juga kabar gembira bagi manusia yang berbuat baik. Dan memberi isyarat untuk mencari daerah lain selain Mekah. Berdasarkan ayat ini Muhammad saw menyuruh kaum muslim hijrah/eksodus ke Habasyah.
Berdasarkan peristiwa tersebut dapat dipahamai bahwa eksodus dari daerah sendiri menuju daerah lain ketika genting dan bahaya yang mengancam nyawa dibolehkan dalam Islam. Kebolehan ini sangat beralasan karena menyangkut nyawa seseorang, maka langkah untuk eksodus dari Mekah menuju Habasyah adalah tindakan tepat yang dilakukan oleh Muhammad saw sebagai seorang pemimpin, eksodus ke Habasyah dapat dianggap sebagai mencari suaka politik. Karena mereka meminta perlindungan kepada raja Habasyah. Meminta suaka politik dibolehkan dengan alas an di daerah /negara sendiri tidak merasa aman, terintimidasi dan terancam jiwanya, maka langkah yang tepat adalam mencari suaka politik ke daerah lain atau negara lain.
Kepemimpinan Muhammad saw di Mekah lebih difokuskan kepada pembentukan karakter kepribadian, penguatan keimanan, dan pendidikan. Menurut Mahmud Yunus pengkaderan yang dilakukan oleh Rasulullah saw kepada kaum muslim meliputi; pertama materi keimanan, yang memfokuskan kepada iman kepada Allah, bahwa Allah itu Esa, beriman kepada kenabian Muhammad saw, bahwa Muhammad saw adalah benar utusan Allah, serta mengimani bahwaAl-Quran berasal dari Allah. Kedua materi ibadah, amal ibadah yang dianjurkan Muhammad saw ketika masih di Mekah adalah salat, sebagai konsekuensi pernyataan mengabdi kepada Allah, ungkapan rasa syukur, membersihkan jiwa dan menghubungan hati dengan Allah. Yang pada mulanya mereka salat secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam. Sedangakn untuk zakat masih belum diatur, pembayaran zakat hanya diberikan kepada orang msikin dan anak yatim. Ketiga materi pengkaderan yang diberikan Muhammad saw diMekah adalah materi akhlak. Muhammad memnganjurkan kepada kamumuslim di Mekah berakhlak mulia sepertiadil, menepati janji, pemaaf, tawakkal, bersyukur atas nikmat Allah, saling menolong, berbuat baik kepada kedua orang tua dan memberi makan orang miskin, musafir dan meninggalkan akhlak yang buruk.
Pengkaderan yang dilakukan oleh Rasulullah merupakan langkah yang tepat sebelum melakukan ekspansi dakwah ke luar, karena pengkaderan dan pendidikan kejiwaan kepada para pengikutnya merupakan strategi utama dalam membangun kesolidan pasukan. Muhamad saw menyadari bahwa kesolidan dan kesatuan anggota samgat penting dalam mendukung dan memperkuat suatu tujuan. Sehingga kecil kemungkinan kelemahan tarjadi dalam diri para anggota. Afzalur Rahman menyatakan bahwa Muhamad saw mengkader anggotanya agar terhindar dari kelemahan, langkah-langkan yang dilakukan Muhammad saw adalah menggunakan factor moral, rohani, psikologis dan fisik yang kesemua itu dapat membantu memperkuat keyakinan mereka atas kebenaran dan kemuliaan tujuan dakwah dan agama yang mereka anut. Kebijakan yang dilakukan oleh Muhammad saw adalah bukti bahwa beliau adalah pemimpin yang mengetahui satategi kepemimpinan, karena beliau menyadari bahwa tidak ada artinya mempunyai pasukan yang kuat dari segi persenjataan, tetapi lemah dalam spirit dan kejiwaannya.
Pengkaderan yang dilakukan Muhammad saw adalah berdasarkan wahyu Allah yang turun di Mekah, kesemuanya secara umum berisi tentang ketauhidan, kewajiban social terhadap sesama, dan tentang tanggung jawab masing- masing individu dihadapan Allah. Dengan demikian makin memperjelas anggapan bahwa yang dilakukan Muhammad saw adalah inspirasi dari wahyu Allah untuk mengkader pengikutnya menjadi militan tangguh dalam menghadapi berbagai rintangan dan tantangan kaum kafir Qurais. Dalam mengakedar Muhammad saw mengakui mendapatkan inspirasi dari Al-Quran sebagai wahyu Allah. “Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah Termasuk orang-orang musyrik”. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, Padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”(QS. Al-Anam:161-164).
Sebagai seorang pemimpin Muhammad saw peduli terhadap kaum mustadhafun (kaum tertindas dan lemah), para budak, pekerja rendahan, tukang batu, wanita, anak-anak yatim, orang-orang tertindas, kepedulian ini menimbulkan kekhawatiran kalangan bangsawan Mekah, yaitu parasaudagarkaya, tuan tanah, pemuka agama, mereka merasa terancam dengan berkumpulnya para mustadhafun tersebut, mereka cemaskalau para proletar itu akhirnya mengancam kedudukan mereka. Kemudian kaum bangsawan Mekah meminta kepada Nabi Untuk mengembalikan mustadhafun tersebut, tetapi permintaan itu ditolak oleh Muhammad saw.
Kalaulah Muhammad sebagai seorang materialis maka permintaan kaum penindas akan dikabulkan. Karena pada dasarnya Muhammad saw juga berasar dari kaum miskin lemah dan tertindas, maka mustahil Muhammad saw akan menyerahkan para mustdhafun ketangana para penindas tersebut. Muhammad saw berjuang untuk persamaan dan kebenaran bukan untuk harta benda, Muhammad saw berjuang untuk mencari ridha Allah, membebaskan kaum tertindas dan lemah, membangun ordo kebenaran berdasarkan wahu ketauhanan, keadilan dan persamaan. “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah Kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah Kami penolong dari sisi Engkau!”.(Qs. Annisa:75).
Secara umum kebijakan Muhammad saw ketika di Mekah bersifat pembangunan rohani dalam anggotanya, sebab pada saat itu Muhammad saw belum mempunyai kekuasaan secara penuh. Dikatakan tidak secara penuh karena Muhammad saw tidak menguasai Mekah secara keseluruhan. Dengan demikian secara teritorial Muhammad saw tidak mempunyai wilayah kekuasaan. Tetapi apabila di tinjau dari segi kekuasaan bersifat keagamaan, dimungkinkan karena Muhammad saw mendapatkan wahyu dari Allah berupa Al-quran untuk membawa manusia ke jalan Allah. Dalam hal ini, peninjauan Muhammad sebagai pemimpin lebih kepada aspek keagamaan. Kemudian timbul pertanyaan. Mengapa Muhammad dianggap sebagai pemimpin atau memimpin di Mekeh? Jawabnya adalah karena Muhammad saw mempunyai pengikut, yaitu orang Mekah yang telah masuk Islam, dan jumlahnya pun sangat sedikit jika dibanding dengan jumlah penduduk Mekah.
Tetapi yang pasti kepemimpinan Muhammad saw diakui oleh umatnya sendiri, yang pada waktu itu masih sedikit. Dengan demikian secara internal Muhammad saw diakui sebagai seorang pemimpin. Peran kepemimpinan Muhammad tercermin dengan mengatur , mengendalikan dan mengkader para pengikutnya untuk teguh pendirian, berakhlak, beriman dan berjiwa sosial.
Kepemimpinan Muhammad saw terlihat jelas tatkala mengetahui bahwa pengikutnya mendapat tekanan, intimidasi dan penyiksaan yang dilakukan oleh kafir Mekah.sebagai pemimpin Muhamad saw tidaktinggal diam, Muhammad saw menyuruh semau pengiktunya untuk eksodus dari Mekah dan menuju Habsi, dan sebelum memutuskan utnuk eksodus ke Habsyi Muhammad saw telah memikirkan dan menganalisa keadaan dan situasi di Habsyi, akhirnya dengan beberapa pertimbangan akhirnya Muhammad saw memilih Habsyi sebagai tujuan eksodus untuk mencari suaka politik. Hal senada diungkapkan Hasan Ibrahim Hasan, bahwa ketika Muhammad saw mernyaksikan penderitaan sahabatnya oleh kaum kafir Mekah, maka Muhammad saw menyuruh para sahabat tersebut eksodus ke Habsyi, karena di sana Rajanya adil dan bijaksana, di samping itu Habsyi adalah negeri yang aman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar